Everyday learning

Sosial Media: If you can meet in person, it is thousand times better

It’s always good to see some one new not from your daily crowd, it gives you new perspective on things, anythings. Yesterday I met someone interesting who built his personal brand from nothing (no one knew) to someone known as a person who can help you or your organization to develop creative ideas, that I already follow in social media for long time.

During our conversation, lots of new ideas I would like to adopt and it gives me a new energy to try new things. I can start with building my personal brand here… What I want to be known as and how to achieve it… really fresh ideas..

Social media give us chance to meet and engage with very interesting people, someone new, someone with completely different mind set. You can follow them and they may be follow you back, but nothing nothing beats the intensity of the discussion if you meet them in person. it thousand times better I can tell you

Lintah darat Modern

Pada saat dulu kita masih di sekolah SD dan SMP, kita diajarkan bahwa Lintah Darat adalah orang yang meminjamkan uangnya kepada yang membutuhkan (biasanya orang miskin atau petani) kemudian membebani orang tersebut dengan bunga yang tinggi sehingga tidak bisa membayar. Apabila tidak bisa membayar maka mereka akan mengirim centeng dan memukuli orang tersebut, bahkan mungkin mengambil anak perempuan mereka sebagai bayaran.

Sungguh suatu jaman kegelapan dan tidak ada lagi praktek seperti itu sekarang… betul..? Salah besar… si Lintah darat itu sudah berganti nama menjadi VISA dan Master Card dan sekarang ada juga KTA (kredit tanpa agunan) yang siap untuk menjerat anda yang tidak waspada.

Kartu kredit bukanlah suatu yang harus kita hindari, karena kehidupan modern kita yang sekrang membutuhkannya, tetapi bagaimana menggunakannya secara tepat itulah yang perlu kita lakukan. Untuk itu saya akan banyak mengulasnya di posting kedepan, mudah musahan berguna bagi kita semua.

Perjaan saya : Menjadi Kambing Hitam

Saya baru saja bertemu dengan seorang teman lama, sekitar 10 tahun an, dan beliau bercerita tentang kisah hidupnya selama ini yang cukup menarik. Beliau bukan orang yang pandai sekali waktu SMA, yah seperti saya… tidak ada yang istimewa, inilah ceritanya:

Setelah selesai kuliah, saya berkerja di perusahaan bidang batubara, rupanya bidang tambang ini sangat besar di Indonesia tapi jarang terdengar pada saat kuliah. Bisnisnya sedikit agak ditutup tutupi oleh pemainnya, mungkin biar tidak terlalu high profile. Pajaknya juga relatif sangat kecil.

Semua yang bekerja disini sangat well connected. Uang pelicin mengalir seperti tak ada hari esok, kalau tidak ada pelicin, pasti usaha akan terganggu. Bila dengan pelicin, barang busuk-pun bisa menjadi uang. Demikianlah Industri tambang kita. Saya diangkat menjadi salah satu yang mengurus keuangan perusahaan, bagian pekerjaan saya juga menandatangani berbagai dokumen yang saya juga tidak tahu mau mau dibawa kemana itu uang.

Karena itu adalah praktek yang sudah biasa dilakukan sejak dahulu, saya anggap itu adalah sesuatu yang normal. Tetapi di dalam perusahaan tambang, juga industri lain yang berkaitan erat dengan pemerintah, “bisnis is anything but normal“. Apa yang saya tanda tangani ternyata kemudian dijadikan bukti adanya korupsi. Mungkin karena pemerintahan yang baru tidak kebagian sebesar apa yang mereka inginkan saya tidak tahu tapi singkat cerita sayapun menjadi pesakitan di penjara dua tahun.

Saya merasa menjadi kambing hitam, atasan saya mengaku tidak tahu tentang hengky pengky yang ada padahal surat surat yang selalu saya tanda tangani dan saya minta beliau untuk menge-checknya. Pemilik perusahaan mengatakan itu urusan dalam perusahaan yang tidak mereka mengerti. Semuanya lari dari tanggung jawab dan akhirnya semua tanggung jawab ada di pundak saya pribadi sebagai penanda tangan dokumen.

Betapa bodohnya saya, rupanya pekerjaan saya selama ini memang dibuat untuk menjadi escape goat. Saya sudah melaksanakan hukuman yang saya anggap saya dihukum karena menjadi orang bodoh bukan karena saya korupsi. Tentunya itu menjadi noda hitam dalam hidup saya selamanya, tetapi tak apa, ini adalah garis hidup yang saya harus lalui.

Sekarang saya sudah bekerja lagi tetap di perusahaan tambang karena itu adalah industry yang saya tahu, tetapi sekarang saya menjadi pemasok mereka. Uang pelicin apalah namanya, saya tidak mau memberikan lagi. Tak apa saya dapat kecil tapi saya menjual kemampuan saya untuk dapat menolong mereka, saya jamin tak ada barang busuk yang saya jual.

Demikian tuturnya, tak terasa air mata saya berlinang tak tahu saya harus berbuat apa kecuali memeluk sahabat saya ini.

Jakarta Minggu 29 Januari 2012

The more loyal you are the less your salary

Tidak percaya kalau semakin loyal anda pada perusahaan, maka semakin (relatively) kecil gaji anda?

Berikut adalah yang biasanya terjadi: Ketika anda berada di perusahaan, maka gaji anda akan mengikuti kenaikan tiap tahunnya. Tetapi kenaikan tersebut tidaklah terlalu tinggi, biasanya sama dengan inflasi atau bahkan kurang tergantung prestasi anda, mungkin sekali-sekali di adjust.

Tetapi orang yang baru masuk (untuk level yang sama dengan anda) biasanya mendapatkan gaji yang lebih tinggi karena mereka akan menegosiasikan gaji mereka dan dalam negosiasi tersebut, mereka akan minta  lebih tinggi dari pasaran. Sedngkan anda, biasanya akan semakin tertinggal atau paling tidak sama dengan pasar.

Kalau itu terjadi pada anda, anda memiliki 3 pilihan, kira kira mana yang akan anda pilih?

  1. Minta kenaikan gaji (renegotiate)
  2. Pindah ke tempat kerja yang lain
  3. Tetap loyal pada perusahaan

 

Double check

Double check is very expensive, but No Check is stupid..? What should we  do?

Outliers: adalah cara statistik untuk menge-chek data yang ada, adakah data yang merupakan outliers (jauh berbeda dari rata rata yang lain)/, bila ya kita bisa membuang beberapa data point yang outlier atau mengecheck sourcenya apa yang sebenarnya terjadi

Blip: Melihat trend yang ada selama ini apakah terjadi perubahan trend secara significant…? kalau iya baru di investigate

Common sense: If it does not make sense, something is wrong… as simple as that..!  the higher your experience (usually) the better your sense…

Ada berapa hal yang diharuskan untuk double cross check, misalnya… kunci pintu pesawat terbang, pramugari akan men- double check apakah pintu sudah di kunci dengan benar oleh pramugari yang lain.

Di-Kapitalis-in

Hari ini ada yang mengajak saya “ngrasani” tentang boss yang relatif baru… katanya:

  • Ini boss bagaimana sih seperti nggak mau tahu keadaan di dalam…
  • Bisanya cuma ngejar setoran aja, kalau setoran gak nyampe marah marah, kalau setoran lewat dari target, biasa saja
  • Orang di kurangi mulu supaya ngurangi Cost
  • Sedangkan pekerjaan nambah terus…
  • Ini maunya apa sih…?

Saya tertawa kecil saja sambil mencoba merasa prihatin, rupanya disini sudah ada teman yang merasa di “kapitalis-in”. Ya semua perusahaan inginnnya biaya kecil untung besar sekarang karyawannya mau atau tidak di begitukan..?

Bagaimana kalau karyawannya balik meng-kapitalis-in perusahaannya, dapat gaji sebesar besarnya tapi dengan kerja sekecil kecilnya..? Bakal masuk ke  Got bareng ini perusahaan… :(

Antara saya, aku dan gue

Semuanya memiliki arti yang sama, tetapi mereka memliki “rasa” yang berbeda

Ada sebuah pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga dalam menggunakan kata ganti ini. Sebelumnya saya tidak menyadari mengapa seorang dosen senior begitu “mencuekkan” saya. Setiap kali berdiskusi, saya merasa ada sense bahwa dosen ini menunjukkan rasa tidak suka. Tidak terlalu kentara tapi cukup bisa di rasakan saya dan teman teman yang lain

Beberapa lama kemudian saya menyampaikan hal tersebut keada seorang dosen lain yang cukup dekat dan bisa diajak bicara, ternyata beliau mengatakan bahwa Dosen senior tersebut  tidak suka kata ganti “Aku”, karena bagi beliau itu seperti menyombongkan diri. Dan dosen tersebut juga berpesan, jangan pernah menggunakan kata ganti “gue” karena ini sudah kurang ajar.

Dari hal ini saya akhirnya tidak pernah lagi menggunakan kata “aku” dan “gue” kecuali dalam suasana sangat informal…

Pitching, you have five minutes…

Pitching is selling an idea… can you convince someone to buy the idea..? Everyday we have to “pitch”, in meetings, in the class, during smoking session, etc. The first five minutes is the most important part. You lost in this five minutes… you gone… you make it interesting, you got the chance.

The best pitch is something that we know best, and have passion talking about it, otherwise its just a hollow pitch, and we can feel and sense it. Its hard to pitch a credit card during rush hour… but someone managed to do it, I am hooked.. change my credit card.  Can you wrap your idea in five minutes and make it interesting. It may need more effort than you think..

Mr. Credit-Card-man This post is dedicated to you…