nielsen

Kejamnya Ibu Kota tak sekejam Rating TV

Wah twitter rame banget tentang rating TV, mumpung saya juga menggunakannya, yah di bikin post blog sekalian,,,

Guna rating: Gampangnya, kalau saya mau beriklan, saya cari acara yang sesuai dengan target market saya dan memiliki penonton yang banyak. Nah darimana saya tahunya sebuah acara ditonton berapa orang dan siapa yang menonton…? Yah rating TV lah yang kita gunakan untu Men jugde acara tersebut sesuai dengan produk kita atau tidak.

Korban Rating: Sudah ratusan program tv lengser karena ratingnya jelek, (kurang banyak penontonnya) tak peduli itu progeam berkualitas atau pendidikan… Rating Jelek, yang punya TV ogah memberi waktu untuk On-air karena pemasukan kurang. hanya di TVRI saja yang tidak terlalu peduli Rating.

Hal inilah yang menyebabkan  para artis, sutradara, Production house menjadikan masalah rating masalah personal bagi mereka… bagi yang pernah di lengserkan ratingTV bencinya setengah mati… tapi bagi yang diuntungkan, mereka senyum senyum karena siaran bisa hampir tiap hari di prime time kayak kejar setoran… Duit mengalir deras :)

Apa itu Rating: Rating itu adalah presentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total populasi pada waktu tertentu.. misalnya acara tukul “bukan 4 mata” ratingnya 10… artinya dari populasi (dalam hal ini 10 kota besar) 10% menonton acara tukul “bukan empat mata” gampang kan..? semakin kecil semakin sedikit yang menonton…

Rating ini diukur dalam satuan menit… jadi dalam acara tukul misalnya ada beberapa bintang tamu… kita bisa mengetahui bintang tamu mana yang memiliki rating lebih tinggi.. di jamin bintang tamu itu akan keluar lagi baik diacara yang sama maupun di acara lain.

Itulah kenapa artis opera van java “Sule” lebih “laku” dibanding bintang OVJ lainnya atau kenapa Olga Saputra meski sudah blunder berkali kali tetap dipakai mengisi TV… jawabnya karena mereka adalah pendongkrak rating… mungkin mereka tidak tahu bahwa kita memonitornya melalui ratingTV, bahkan mungkin tidak tahu rating itu apa dan bagaimana mendapatkannya.

Rating Tinggi adalah acara sampah: bisa ya bisa tidak, karena rating tidak mengukur kualitas program… kalau acara rating tinggi adalah sampah.. ya salahin kenapa orang Indonesia senengnya nonton Acara sampah

Rating bisa dibeli: Coba kasih tahu siapa yang bisa beli (menyuap) suapaya rating lebih tinggi… biasanya ini hanya rumor saja.

Nielsen panelnya misterius: ya memang di rahasiakan.. lah kalau ketahuan, gampang dong saya sogok panelnya agar nonton acara tertentu

Lu belain rating banget sih,.?: saya percaya riset dan menggunakannya untuk pekerjaan saya… saya yakin siapapun yang melakukannya, kalau methodolgynya sama hasilnya gak akan jauh beda

Terus gimana dong: Menurut saya artis, PH, sutradara dll gak usah berisik tentang rating, gunakan rating untuk membantu pekerjaan anda.. misalnya kalau mau bikin acara, harus jelas acara tersebut untuk segment apa produk mana yang diharapkan untuk bida support acara tersebut dll.

Kalau hanya berpatokan rating total saja, maka acara di TV tidak akan jauh dari film Pocong dan sinetron gak jelas… yang memang disukai banyak dari kita2 ini…

Advertisements

Socio Economic Status (SES) Indonesia

Dulu waktu saya kuliah susah sekali mendapatkan data data ini.. data yang sangat basic tetapi penting tentang pembagian konsumen berdasarkan satus ekonomi.

Tetapi ketika kita bekerja, hampir semua orang tahu tentang hal ini dan juga proporsinya, untuk itu saya coba akan mengupdate informasi ini agar rekan rekan yang membutuhkannya dapat menggunakan untuk materi tulisannya, berikut ini adalah pembagian konsumen menurut Nielsen Indonesia dengan menggunakan pendekatan pengeluaran perbulan.

SES
Pengeluaran / bulan (‘000)
Proporsi (%)
A 3000 atau lebih 13
B 2000 – 3000 27
C1 1500 – 2000 28
C2 1000 – 1500 21
D 700 – 1000 8
E 700 atau kurang 3

Mudah-mudahan berguna

Blog hanya trend sesaat, So what to do..?

Blog berkurang pengunjugnya: Sebagai seseorang yang terlambat “ngeblog” sunguh suatu hal yang cukup menyedihkan melihat bagaimana sebuah media akan ditinggalkan oleh penggemarnya. Mungkin bisa dikatakan seperti kalau anda baru masuk ke dunia per surat-kabaran, tetapi anda mengetahui bahwa pembaca surat kabar menurun drastis dan merupakan dying product category. It breaks my heart.. :) Continue reading